Daftar post

Kamis, 02 Juni 2011

pemerkosaan reporter

Sebut saja namanya
Intan, seorang gadis
berusia 24 tahun,
tingginya 165cm
dengan berat badan
yang cukup ideal,
53kg, dengan ukuran
payudara 34C. Dia
bekerja di salah satu
stasiun televisi
swasta sebagai
reporter. Intan
beparas cantik dan
berkulit putih mulus
sehingga dia dapat
diterima bekerja
sebagai reporter di
XXX tv sejak dua
tahun yang lalu.
Sebagai seorang
reporter yang
pastinya sering
muncul menyapa
pemirsa di layar
kaca, tentunya
membuat Intan
meraih popularitas
sehingga banyak
orang mengenalinya.
Banyak hal yang
dirasa
menyenangkan bagi
Intan karena
popularitas yang
didapatnya,
diantaranya pada
waktu keluar
berjalan-jalan,
banyak orang yang
mengenalinya dan
tersenyum
kepadanya serta
menyapanya,
bahkan hingga
meminta
tandatangannya.
Namun, jika ada hal-
hal yang positif tentu
saja ada pula yang
negatif, diantaranya
banyak lelaki yang
suka bersiul (suit-
suit) ketika ia lewat,
seringkali hampir
dicolek oleh tangan
jahil lelaki iseng dan
mupeng (untungnya
hanya hampir),
hingga yang baru
saja terjadi, ada
yang nekad mencari
kesempatan untuk
mengintip Intan kala
sedang berganti
pakaian di dalam
kamar pas di sebuah
department store di
dalam sebuahpusat
perbelanjaan, sialnya
pelakunya tidak
berhasil tertangkap
tangan.
Sebagai seorang
reporter, tentunya
Intan sering meliput
berita di sana-sini,
lumayanlah itung-
itung sekalian jalan-
jalan sembari
shopping, begitu
pikirnya. Terhitung
hampir semua
daerah, dari Sabang
sampai Merauke
sudah pernah
disinggahinya kala
melakukan
rutinitasnya sebagai
seorang reporter
televisi. Walaupun
begitu, ia jarang
mendapatkan
kesempatan untuk
melakukan liputan
ke luar negeri
sehingga suatu saat,
ketika atasannya
memberikan
kesempatan
kepadanya untuk
meliput berita di
Jepang, Intan girang
sekali dan langsung
memutuskan untuk
mengambil
kesempatan
tersebut. Walaupun
tahu bahwa harga-
harga di Jepang
sangat mahal, ia juga
telah menyiapkan
anggaran untuk
belanja. Di Jepang
nanti, Intan
ditugaskan untuk
meliput sebuah
festival adat di
Jepang beserta
segala keunikannya.
Hari yang dinanti-
nantikan tibalah
juga. Ima berangkat
ditemani oleh Nina,
seorang camera
person dari XX tv ke
Jepang. Nina berusia
dua tahun lebih
muda dari Intan,
tinggi badannya
sepantaran dengan
Intan namun sedikit
lebih kurus dengan
payudara yang lebih
kecil 34A, gayanya
modis, dan
rambutnya seringkali
bergonta-ganti
warna, kali ini ia
mengecat
rambutnya dengan
warna cokelat
kemerahan,
menambah cantik
penampilannya yang
juga berkulit putih.
Mereka
menggunakan jasa
salah satu maskapai
penerbangan dalam
negeri karena
memang maskapai
dalam negeri tidak
dicekal di Jepang
seperti halnya yang
dilakukan oleh
negara-negara Uni-
Eropa.
Setelah menempuh
perjalanan selama
beberapa jam,
tibalah Intan dan
rekannya di bandara
internasional Narita.
“Lo kenapa Nin?”,
tanya Intan pada
kawannya. “Kok
kelihatannya lesu
gitu ?”
“Ya ialah, lama
banget tuh
perjalanan tadi, lo sih
enak, molor terus !”
Ucapan temannya
tersebut hanya
ditanggapi dengan
tawa oleh Intan,
karena memang
selama perjalanan
menuju Jepang, ia
lebih banyak tidur,
bukan karena
fasilitas pesawat
yang nyaman,
namun lebih
dikarenakan balas
dendam, balas
dendam? Lho?
Memang, seminggu
terakhir sebelum
berangkat ke
Jepang, ia terus
melakukan liputan
berpindah-pindah
kota untuk sebuah
program wisata
belanja, hal itu
dilakukannya untuk
mengejar deadline
dari pimpinan
redaksi.
Selama di Jepang,
rencananya Intan
dan Nina akan
tinggal di rumah
Wiwin, kawan akrab
Intan kala masih
duduk di bangku
SMU, Wiwin sekarang
bekerja sebagai
seorang designer
dan tinggal dekat
kawasan Shibuya.
Hal ini juga
merupakan suatu
kebetulan bagi Intan
karena Shibuya
memang terkenal
dengan wisata
belanja, kegemaran
utama Intan.
Setibanya di
kediaman Wiwin,
Intan dan Nina
langsung
memutuskan untuk
beristirahat terlebih
dahulu seusai
perjalanan panjang
dari Indonesia,
malam harinya Intan
mengajak wiwin
untuk mengantarnya
berbelanja keesokan
harinya.
“Win, besok selesai
liputan, lo anterin
gue shopping yuk,
gue kan disini cuman
dua hari ”.
“Aduuuh, sorry tan,
gue besok ada
meeting sama klien,
enggak bisa
ditinggalin. Plus
sorenya gue
ketemuan sama
cowok gue. Emm, lo
ditemenin sama si
Nina aja ya? Ntar
gue kasih tahu
tempat-tempat yang
barangnya bagus
dan murah.”
“Yah, si Nina kan
sama aja kaya gue,
awam sama daerah
sini, lo gimana sih ?”
“Iya, iya, soriii
banget tapi gue
betul-betul nggak
bisa, lagian
transportnya
gampang kok, naik
KRL sekali juga
nyampe.”
“Mmm….. ya sudah
deh engga apa-apa
kalau begitu. ”
Jawab Intan dengan
muka masam. “Eh,
omong-omong
cowok lo cakep
ga ?”
“Yaa, itu khan
relatif, tapi umurnya
udah jauh lebih tua,
ada terpaut
limabelas tahunan
sama gue, lumayan
tajir lagi. ”
“Gila lo, sekarang
kok seleranya
berubah, seneng
sama om-om,
hahahaha. ”
Merekapun bercanda
hingga merasa
mengantuk dan
beristirahat
kemudian.
Keesokan harinya,
Intan dan Nina
menyelesaikan
liputan berita untuk
XX tv dengan lancar,
merekapun kembali
terlebih dahulu ke
tempat Wiwin untuk
meletakkan kamera
dan berganti
pakaian. Intan dan
Nina sepakat
kompakan memakai
rok span berwarna
senada, hitam,
sehingga tampak
kontras dengan paha
keduanya yang putih
mulus. Nina
memadukan roknya
dengan blouse putih,
sedangkan Intan
memilih
mengenakan kemeja
berwarna krem,
mereka berdua
mengenakan mantel
bulu karena udara
yang lebih dingin
dibanding di tanah
air.
Berdua, mereka
berangkat naik taksi
ke stasiun dan
kemudian membeli
tiket kereta rel
listrik, tak lama
menunggu,
keretapun datang
dan mereka segera
naik.
Sementara itu, di
tempat kerjanya,
Wiwin tampak
teringat sesuatu dan
mengangkat
ponselnya, hendak
menelepon Intan,
namun, “astaga, dia
belum ganti nomor
lokal, enggak bisa
dihubungi deh. ”
Kata Wiwin dalam
hati dengan wajah
yang tampak
kebingungan karena
hendak
memberitahukan
sesuatu pada Intan
namun tidak bisa
dilakukan.
Di dalam kereta,
Intan dan Nina
ternyata tidak dapat
menemukan tempat
duduk yang kosong,
sehingga
keduanyapun
memutuskan untuk
berdiri sambil
berpegang pada
pegangan yang
sengaja dibuat untuk
penumpang yang
tidak kebagian
tempat duduk. Lima
menit berlalu, sambil
berdiri, Nina dan
Intan baru
menyadari bahwa
hampir seluruh
penumpang di
gerbong tersebut
adalah laki-laki,
hanya ada dua
wanita tua yang
sedang terlelap
duduk di ujung
gerbong. Perhentian
berikutnya,
beberapa
penumpang turun,
Intan dan Nina
mencoba mengambil
kesempatan untuk
duduk, namun
keduluan oleh
beberapa
penumpang lain yang
sedari tadi juga
berdiri.
Segerombolan
penumpang baru
juga masuk, dan
seluruhnya pria.
Space untuk berdiri
pun kian sempit,
sehingga Intan dan
Nina hampir
dikelilingi oleh
gerombolan pria
yang bau naik tadi.
“Yah, sial, berdiri
lagi deh.” Ujar Intan
yang diamini oleh
Nina.
“Liat deh,
penumpangnya laki
semua tapi nggak
ada yang gentleman,
ngasih tempat duduk
kek buat makhluk-
makhluk cantik,
ha2.” Canda Nina
yang disambut tawa
renyah Intan
Sesaat setelah itu,
terdengar suara
seseorang
dibelakang mereka,
dari nada bicaranya
nampaknya
bertanya sesuatu
kepada mereka.
Merekapun menoleh
mencari si sumber
suara. Tampak
dihadapan mereka
seorang bapak
berwajah ramah,
jika ditaksir, kira-
kira umurnya
empatpuluhan.
Ternyata orang
tersebut yang
memanggil tadi.
“Ima nanji desu
ka?”
Intan dan Nina sama-
sama bengong
karena sama sekali
tidak mengerti apa
yang baru saja
diucapkan pria
tersebut.
Seolah mengerti
bahwa yang diajak
bicara tidak
mengerti bahasanya,
bapak tersebut
mengulangi
pertanyaannya.
“Ano, What is da
time?” Ujarnya
dengan bahasa
Inggris sekenanya
sambil menunjuk
pergelangan
tangannya sendiri.
Intan dan Nina baru
mengerti apa yang
ditanyakan tadi
ketika si bapak
berwajah ramah
mengulangi
pertanyaannya
dalam bahasa
Inggris, walaupun
tata bahasanya
salah (yang benar
what time is it?).
Untungnya Intan
sudah mencocokkan
jam tangannya
dengan waktu
setempat. Ia pun
memperlihatkan jam
tangannya
kehadapan bapak itu
agar dapat melihat
sendiri pukul berapa
sekarang. Bapak
itupun manggut-
manggut setelah
melihat jam. “Domo
arigato gozaimasu”
Ucapnya sambil
tersenyum. Kalau
yang ini Intan
mengerti bahwa
artinya terima kasih,
ia pun membalas
senyuman bapak itu,
sementara Nina
hanya
memperhatikan dari
tadi.
Sebelum sempat
membalikkan badan,
Intan merasakan ada
tangan yang
menyenggol paha
bagian belakangnya.
Ia pun berbisik
kepada Nina, “Nin,
tadi kayak ada yang
nyolek gue deh. ”
“Masa? Kok sama,
tadi juga kayak ada
yang nyenggol
pantat gue. ” bisik
Nina.
“Ya udahlah,
mungkin kebetulan
saja, kereta ini kan
bergerak terus jadi
mungkin ada yang
badannya jadi gak
seimbang dan gak
sengaja nyenggol.”
tukas Intan. Nina pun
mengiyakan ucapan
temannya itu dan
bersikap santai saja
sambil menunggu
kereta sampai di
tujuan.
Belum ada lima detik
dari senggolan
pertama tadi,
kembali Intan
merasakan rabaan
pada pantatnya, kali
ini bukan lagi
menyenggol, namun
terasa sedikit
meremas. Terkejut,
Intan pun berusaha
menepis tangan itu.
Merasakan gelagat
yang tidak baik,
Intan mengajak Nina
menjauh dari tempat
berdiri mereka
sekarang. Namun
belum sempat
mereka bergerak,
ada tangan-tangan
yang mencengkeram
lengan mereka
berdua sehingga
mereka tidak dapat
bergerak kemana-
mana. Disaat
bersamaan, kedua
wanita cantik itu
merasakan tangan
yang menjamah
tubuh mereka kian
banyak. Ada yang
meremas-remas
pantat mereka dan
ada yang naik
meraba payudara
mereka. Merekapun
berusaha meronta
melepaskan diri dari
situasi tersebut,
tangan keduanya
bergerak menepis
tangan-tangan jahil
itu. Namun apa daya
dua pasang tangan
melawan tangan-
tangan sebanyak itu.
“Ehh, apa-apaan
ini!” teriak Intan.
Namun ia menyadari
tidak ada yang
paham ucapannya. Ia
pun berusah
menggunakan
bahasa Jepang
sebisanya. “Ieee,
bageroooo!
Emph ….” Sebelum
sempat meneruskan
teriakannya, ada
tangan kokoh
membekap mulutnya
dari belakang
sehingga ia tak lagi
mampu berkata-
kata. Semakin lama,
jamahan dari
tangan-tangan itu
kian mengarah ke
paha bagian dalam
Intan. Ia pun
berusaha
mengatupkan kedua
kakinya sehingga
tangan-tangan itu
tidak dapat
menjangkau bagian
vitalnya. Namun
usaha itu sia-sia
karena tangan-
tangan lain sudah
mencengkeram dan
merenggangkan
kakinya sehingga
posisinya terbuka
dan tangan-tangan
jahanam itu dapat
leluasa bergerak
menuju vagina Intan
yang masih tertutup
g-string seksi warna
hitam.
“Mmh…. hhhh”
Intan hanya bisa
sedikit mendesah,
dalam keadaan
mulutnya disumpal
telapak tangan
seseorang
dibelakangnya. Intan
mencoba melihat
dimana posisi Nina,
tapi ia tidak dapat
melihat temannya
itu, di sekitarnya
hanya ada
segerombolan laki-
laki.
Perlahan, tangan-
tangan tersebut
mulai membuka
kancing kemeja
krem Intan. Intan pun
berusaha meronta
sebisanya, namun
hal tersebut hanya
membuat
pertahanannya lebih
longgar karena
berikutnya, mantel
bulu yang
dikenakannya
berhasil direnggut
oleh seorang laki-laki
anggota gerombolan
itu. Kini, Intan masih
berpakaian lengkap
minus mantel
bulunya, namun
kancing kemejanya
sudah terbuka
seluruhnya,
memperlihatkan
payudara Intan yang
sekal dan hanya
ditutupi oleh bra
berwarna putih.
Tangan-tangan yang
menjamahnya
seolah semakin
menggila dengan
keadaan tersebut.
“Mmm…!”,
terdengar suara
teriakan tertahan
Intan. Rupanya ada
yang meremas-
remas payudara
Intan dengan keras
sehingga ia berteriak
tertahan. Berikutnya,
dengan sekali
hentakan, robeklah
bra putih yang
dikenakan Intan
memperlihatkan dua
gundukan indah
dengan puting
berwarna
kecokelatan. Kini,
tubuh bagian atas
intan sudah terbuka
dan hanya
menyisakan
kemejanya yang
seluruh kancingnya
sudah terbuka.
Melihat
pemandangan
tersebut, seorang
diantara gerombolan
tersebut bergerak
maju dan mulai
memainkan puting
payudara sebelah
kanan Intan,
sementara mulutnya
mulai ‘menyusu’
ke payudara sebelah
kiri Intan. Yang lebih
membuat Intan
terkejut adalah,
orang tersebut
ternyata si bapak
berwajah ramah
yang bertanya jam
tadi. Dalam hatinya
Intan berkata
“ dasar tua cabul,
tahu begini udah gue
tonjok dari tadi ”.
Sementara itu,
tangan-tangan yang
‘ beroperasi’ di
bagian bawah tubuh
intan semakin
berani, ada yang
menarik roknya
keatas sebatas
pinggang, sehingga
kini rabaan dan
sentuhan mereka
dapat langsung
bersinggungan
dengan kulit
telanjang Intan,
sebuah tangan
meraba naik paha
bagian dalamnya dan
bersentulah dengan
liang vagina Intan
yang masih
terbungkus g-string
hitam. Tangan itu
menggesek-gesek
kemaluan Intan
dengan gerakan
maju-mundur.
Mendapat
rangsangan yang
demikian hebat,
Intan pun mulai
terangsang diluar
kemauannya sendiri.
Seolah mengetahui
hal tersebut, tangan
yang membekap
mulutnya mulai
mengendurkan
pegangan dan
perlahan
melepaskan
bekapannya. Intan
tak lagi berteriak-
teriak, mungkin
karena sudah
terlampau lelah
meronta, disamping
itu, tidak bisa
dipungkiri bahwa ia
menjadi sangat
terangsang dengan
keadaan ini.
Tanpa disadari oleh
intan, ternyata G-
String-nya sudah
tidak berada
ditempatnya semula,
entah kemana,
memperlihatkan
vaginanya yang
dihiasi bulu-bulu
kemaluan yang
dicukur rapi,
sehingga tangan
yang tadinya hanya
menggesek-gesek
kemaluannya,
perlahan mulai
memainkan jari-
jarinya diatas klitoris
Intan. Intan
terangsang hebat
diperlakukan seperti
ini, namun ia tidak
ingin semua laki-laki
dihadapannya tahu
bahwa ia
terangsang, karena
hal tersebut pasti
akan membuat
mereka merasa
senang dan puas.
Iapun mencoba
menutupinya dengan
mengatupkan bibir
mungilnya rapat-
rapat dan mencoba
untuk tidak
bersuara, apalagi
mendesah. Namun
cobaan terasa
semakin sulit bagi
Intan, selanjutnya,
jari tengah si bapak
berwajah ramah
digerakkan keluar-
masuk di dalam liang
vagina Intan,
didalam vaginanya,
jari itu sedikit
ditekukkan sehingga
mengenai g-spot
milik Intan. Intan
semakin tidak kuasa
menahan gejolak
birahi yang dahsyat,
mulutnya tetap
ditutup rapat-rapat,
namun sesekali
terdengar desahan
tertahan. “Emmh…
hhh”.
Gerakan jari itu kian
lama kian cepat
sehingga pertahanan
Intan yang mati-
matian berusaha
tidak menunjukkan
ekspresi kenikmatan
akhirnya bobol juga.
“Mmhh… aa…
aaaaaahh!!”
Teriakan itu disertai
getaran hebat, ia
menggelinjang
menerima orgasme
pertamanya.
Cengkeraman
tangan dari para
lelaki yang sedari
tadi memegangnya
kuat-kuat, akhirnya
dilepaskan. Intan
terduduk lemas,
tubuhnya terasa
panas terbakar
gejolak birahi.
Perasaannya
bercampur aduk,
antara malu, terhina,
marah dan nikmat.
Hanya sekitar lima-
enam detik
kemudian, tubuh
Intan kembali
diangkat oleh para
lelaki Jepang
tersebut, namun kali
ini beberapa orang
diantara mereka
sudah melorotkan
celana masing-
masing,
memperlihatkan
penis masing-masing
yang sudah tegak
mengacung.
Mengetahui apa
yang akan dilakukan
gerombolan lelaki
itu, Intan coba
berontak dengan
menggunakan
tenaganya yang
tersisa, namun
seorang diantara
gerombolan itu,
tubuhnya kurus dan
agak tonggos,
meremas kedua
payudaranya kuat-
kuat sehingga intan
merintih kesakitan
dan mencoba
menepis tangan itu
dari atas
payudaranya. Disaat
bersamaan,
pinggang Intan
ditarik kebelakang
oleh si bapak
berwajah ramah
yang langsung
menancapkan penis
15cm-nya kedalam
vagina Intan dengan
sekali hentakan
keras. Bless,
masuklah penis itu
disertai teriakan
panjang Intan yang
baru pertama kali
dimasuki oleh penis
laki-laki. Bapak itu
memompa tubuh
Intan dengan cepat.
“ Plok…plok”,
begitu bunyi yang
terdengar ketika
paha bapak itu
beradu dengan paha
bagian belakang
Intan. Para lelaki
yang lain tidak hanya
diam saja, sebagian
menjamah bagian-
bagian sensitif Intan
dengan leluasa,
sebagian lagi terlihat
mengocok penisnya
sendiri, dan ada pula
yang meraih tangan
Intan, dan memaksa
Intan untuk
mengocok penisnya.
Ada seorang lagi
yang berperawakan
pendek
memasukkan
penisnya kedalam
mulut Intan dan
menggerakkannya
maju-mundur.
Sehingga sekarang,
Intan dalam posisi
setengah
membungkuk dan
disetubuhi dari arah
depan dan belakang
tubuhnya.
Lima belas menit
berlalu, lelaki yang
penisnya dikocok
oleh tangan mungil
Intan, tampak tidak
kuat lagi menahan
gelombang orgasme
dan berejakulasi
sesaat kemudian,
crott!! spermanya
muncrat dengan
deras dan sebagian
mengenai wajah
Intan.
“Ah…. ahhh”, Intan
mendesah seriap kali
penis si bapak masuk
dengan dalam di
vaginanya. Lima
menit kemudian,
tubuh Intan bergetar
hebat, ia
mendapatkan
orgasme keduanya.
“ Aaaa.. aaahh!!”
Desahnya.
Tidak berapa lama,
penis didalam mulut
Intan
menyemburkan
spermanya.
Membuat Intan
gelagapan dan
tersedak sehingga
sebagian sperma itu
tertelan olehnya,
sementara sebagian
lagi meleleh keluar
dari bibit indahnya. Si
bapak yang
memompa vagina
Intan rupanya kuat
juga, masih belum
menampakkan
tanda-tanda akan
keluar. Bapak itu
rupanya pandai
memainkan tempo,
terkadang kocokan
penisnya dipelankan
dan terkadang cepat.
Tampaknya ia benar-
benar ingin
menikmati jepitan
vagina Intan
sepuasnya. Sepuluh
menit kemudian,
cengkeraman tangan
bapak itu di pinggang
Intan tiba-tiba
mengeras, bapak
itupun mulai
setengah mendesah.
“ Hhhh…. ah..”
Intan tahu bahwa
orang dibelakangnya
ini akan segera
berejakulasi, iapun
mencoba menarik
badannya ke arah
depan sehingga
rahimnya dapat
diloloskan dari
semburan sperma
bapak brengsek itu,
namun sia-sia, baru
setengah penis yang
bisa dikeluarkan dan
“ Aaaaaahh” Crott,
crott, crott! Sperma
bapak itu keburu
keluar membanjiri
bagian dalam vagina
Intan. “Aah, sial,
damn..” gerutu
Intan dalam hati
karena bapak itu
keluar didalam
vaginanya.
Tubuh Intanpun
digeletakkan di atas
lantai kereta dan
dikelilingi tiga orang
lelaki lagi yang
dengan irama cepat
mengocok sendiri
penis masing-masing
di depan wajah
Intan, dan beberapa
saat kemudian
berejakulasi dan
menyemburkan
sperma masing-
masing di wajah
Intan. Para lelaki
itupun meninggalkan
Intan terkulai diatas
lantai kereta dalam
keadaan telanjang
bulat dengan hanya
mengenakan kemeja
warna krem yang
sudah kusut dan
basah oleh peluh dan
sperma.
Payudaranya
dipenuhi bekas-
bekas remasan dan
cupangan yang
berwarna
kemerahan. Dalam
keadaan lemas, ia
mencoba mencari
Nina yang sejak tadi
tidak terlihat.
Rupanya, Nina
mengalami hal yang
sama dan
ditinggalkan
tergeletak lemas
bermandikan
keringat dan sperma.
Tidak ingin berlama-
lama dalam keadaan
demikian, Intan
segera berdiri,
mengelap keringat
dan sperma
disekujur tubuhnya
dengan bra putihnya
yang sudah robek,
kemudian
mengancingkan
kembali kemejanya
dan menurunkan
roknya kembali,
Intan kemudian
mengajak Nina yang
juga sudah
merapikan diri, untuk
keluar dari kereta
dan mengajaknya
untuk kembali saja
ke tempat Wiwin.
Kejadian barusan
membuat hasrat
belanjanya hilang.
Setibanya mereka di
rumah Wiwin,
merekapun mandi
membersihkan tubuh
masing-masing dari
sisa-sisa
persetubuhan yang
baru saja dialami.
Kemudian
mengistirahatkan
tubuh masing-
masing. Sorenya, bel
depan berbunyi,
rupanya Wiwin
sudah pulang. Nina
yang membukakan
pintu. setelah masuk
kedalam rumah,
Wiwin menanyakan
keadaan kedua
temannya itu. Intan
dan Nina pun
menceritakan hal
yang tadi mereka
alami di kereta
sehingga mereka
berdua
membatalkan niat
belanjanya.
“Waduh, gue minta
maaf bener. gue lupa
kasih tahu kalian,
sebenarnya ada
kereta khusus untuk
penumpang wanita
di sini, karena emang
banyak kejadian
begini sebelumnya.”
“Yah, lo kok enggak
kasih tahu kita dari
kemarin sih Win?
Kalau tahu, kan kita
enggak bakal
diperkosa begini. ”
“Iya, iya, gue bener-
bener mohon
maaf. ” Ucap wiwin.
“Eh iya, kalian mau
enggak, gue kenalin
sama cowok gue?
Kebetulan tuh,
sebentar lagi
kesini. ”
Intan dan Nina
mengiyakan
tawaran itu karena
memang penasaran
seperti apa muka
pacar si Wiwin.
Beberapa saat
kemudian, kembali
terdengar bunyi bel.
Wiwin beranjak
keluar. Saat kembali
kedalam rumah, ia
berjalan bersama
sesosok pria. Intan
terkesiap. Astaga,
ternyata si bapak
berwajah ramah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar